Beselang.id adalah media independen nirlaba yang dikelola secara kolektif. Dukung dengan berdonasi agar kami terus bekerja demi kepentingan publik. Donasi melalui bit.ly/donasibeselang
Bertelanjang dada, Yoyok Cahyadi (41) duduk di depan teras pondoknya yang berada di pedalaman Dusun Benteng Makmur, Desa Muara Kilis, Kabupaten Tebo, Jambi. Sembari menghadap alat pembelah pinang, satu persatu buah pinang dijepit dan dibelah. “Sekarang ini seseran pendapatan kami dari pinang,” kata Yoyok ketika ditemui Beselang di pondoknya pada Sabtu, 6 Juni 2026.
Yoyok berasal dari Bojonegoro, Jawa Timur. Lebih dari 15 tahun, dia meninggalkan kampung halamannya untuk mengadu nasib di Sumatra. Dia merantau dan membuka kebun di Tebo, Jambi. Kini di kebunnya yang berbatasan dengan kawasan konsesi PT Alam Bukit Tigapuluh, Tebo, Yoyok Cahyadi merawat kebun karet.
Di antara pohon karet yang menjulang, tampak jengkol, petai, pinang, kopi, kakao hingga bibit mangga yang baru ditanam. Sulit menemukan hamparan kebun monokultur di lahan miliknya. Hampir setiap sudut kebun dipenuhi tanaman berbeda.
“Sekarang ada sembilan jenis tanaman di kebun saya,” kata Ketua Kelompok Tani Hutan Bukti Tigapuluh atau B30 itu.
Kelompok Tani Hutan B30 yang dipimpinnya beranggotakan 15 orang. Masing-masing mengelola lahan dengan luas bervariasi, mulai dari setengah hektare hingga empat hektare. Karet masih menjadi komoditas utama, tetapi hampir seluruh anggota kelompok menerapkan pola agroforestri dengan menanam berbagai jenis tanaman dalam satu hamparan lahan.
Di kebun Yoyok sendiri, tanaman yang sudah menghasilkan antara lain karet, jengkol, petai, pinang, dan kopi. Belakangan ia juga mencoba menanam matoa sebagai tambahan sumber pendapatan di masa depan.
Pilihan mengembangkan wanatani bukan tanpa alasan. Yoyok mengaku sejak awal tidak ingin bergantung pada satu komoditas. Pengalaman jatuh bangun harga karet mengajarkannya bahwa petani membutuhkan lebih dari satu sumber penghasilan untuk bertahan.
“Kalau harga karet turun, masih ada hasil dari jengkol, pinang, atau tanaman lainnya,” ujarnya.
Yoyok mulai membuka kebun di wilayah tersebut pada 2011. Saat itu ia menanam karet sebagai komoditas utama. Seiring waktu, ia menambahkan tanaman jengkol dan kakao di sela-sela kebun karetnya. Pola itu terus berkembang hingga kini menjadi kebun campuran yang lebih beragam.
Ketika harga karet sempat anjlok beberapa tahun lalu, sebagian petani memilih menebang karet dan beralih ke sawit. Namun Yoyok mengambil jalan berbeda. Ia mempertahankan pohon-pohon karetnya yang sudah tumbuh besar.
Menurutnya, menebang karet untuk diganti sawit bukan pilihan yang menguntungkan. Selain membutuhkan modal baru yang besar, ia menilai karet masih mampu memberikan hasil jika dikelola dengan baik.
“Sayang sudah ada tanaman karet kok diganti sawit. Harus keluar modal lagi,” katanya.
Baginya, tujuan utama petani bukanlah jenis tanaman yang ditanam, melainkan penghasilan yang diperoleh dari kebun. Selama karet masih mampu menghasilkan, tidak ada alasan untuk menggantinya dengan komoditas lain.
“Kalau sawit modalnya besar. Intinya yang dicari petani adalah penghasilan. Karet juga menghasilkan,” ujarnya.
Perjalanan Yoyok mengembangkan kebun tidak lepas dari pendampingan WWF Indonesia. Sejak saat itu kelompoknya mengikuti berbagai pelatihan yang diberikan organisasi konservasi tersebut, terutama terkait pengelolaan kebun karet.
Salah satu pengalaman yang paling diingat Yoyok adalah ketika anggota kelompok dibawa belajar langsung ke perkebunan karet penyuplai Bridgestone. Di sana mereka mempelajari teknik penyadapan yang benar agar produksi getah lebih optimal.

Sebelum mendapat pelatihan, Yoyok mengaku menyadap karet hanya berdasarkan kebiasaan yang diwariskan dari petani lain. Ia tidak memahami teknik yang tepat untuk menjaga produktivitas pohon sekaligus meningkatkan hasil.
Kini cara kerjanya berubah. Setiap sadapan pada batang karet memiliki aturan dan perhitungan tersendiri. “Dulu menyadap asal-asalan. Sekarang ada tekniknya, ada aturannya supaya getah yang keluar lebih banyak,” katanya.
Hasilnya mulai terasa. Produksi getah meningkat tanpa harus memperluas lahan. Di saat yang sama, kebunnya semakin kaya dengan berbagai jenis tanaman yang tumbuh berdampingan.
Kini Yoyok semakin bersemangat untuk wanatani, setelah program restorasi berbasis masyarakat (RBM) yang diinisiasi WWF Indonesia menyasar kelompoknya. Dalam program ini mereka telah menyalurkan sebanyak 30.000 bibit untuk area penanaman seluas 300 hektare di landskap Bukit Tigapuluh.
Project Executant Bukit Tigapuluh Landscape WWF Indonesia Nazli Herimsyah mengatakan, rogram restorasi berbasis masyarakat di Landskap Bukit Tigapuluh lahir dari kebutuhan untuk menjawab tantangan ekologis dan sosial secara terpadu.
Pendekatan ini menurut Nazli tidak hanya bertujuan memulihkan ekosistem yang terdegradasi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mengurangi konflik manusia dan satwa liar, memperkuat pengelolaan kolaboratif, serta memastikan keberlanjutan konservasi melalui keterlibatan aktif masyarakat sebagai pelaku utama dalam pengelolaan landscape.
“Restorasi tidak hanya dipandang sebagai kegiatan penanaman pohon, tetapi sebagai strategi membangun hubungan yang harmonis antara manusia dan alam dalam satu bentang landskap yang berkelanjutan,” kata Nazli melalui keterangan tertulisnya.
Bagi Yoyok, kebun yang beragam bukan sekadar strategi ekonomi. Di tengah fluktuasi harga komoditas dan ketidakpastian masa depan, agroforestri menjadi cara untuk menjaga penghasilan sekaligus memastikan lahannya tetap produktif.
Karet tetap menjadi tulang punggung, sementara pinang, jengkol, petai, kopi, dan tanaman lainnya menjadi penopang ketika salah satu komoditas mengalami penurunan.
Di kebun itulah Yoyok membuktikan bahwa tanpa sawit pun, petani masih bisa bertahan. Bahkan, dengan kebun yang lebih beragam, peluang untuk terus memperoleh penghasilan justru semakin terbuka.