Beselang.id adalah media independen nirlaba yang dikelola secara kolektif. Dukung dengan berdonasi agar kami terus bekerja demi kepentingan publik. Donasi melalui bit.ly/donasibeselang
Duduk di beranda rumah panggung, Katman (67) dan istrinya Suyatmi (50) menyambut kedatangan kami. Baru saja tiba di rumahnya, Mbah Man begitu ia di sapa langsung menyuguhkan kopi hitam dan roti kelapa. “Ini kopi asli dari sini yang kami tanam,” kata Katman di rumahnya pada Sabtu, 6 Juni 2026.
Kedua pasangan senja, yang di sana biasa di sapa Mbah Man dan Mbah Mi itu tinggal di dalam kebunnya. Dia membangun rumah di tengah kebunnya. Secara administratif, rumahnya itu berada di wilayah RT 14, Dusun Benteng Makmur, Desa Muara Kilis, Kabupaten Tebo, Jambi.
Rumahnya mirip bangunan pondok. Di sekelilingnya ada beragaman tanaman tumbuh. Ada karet, kakao, petai, kopi. Di kebunnya yang masuk area konsesi PT Alam Bukit Tigapuluh itu, mereka berdua menghabiskan hari-harinya merawat beragam tanaman yang menjadi sumber penghidupan keluarganya.
Kedua pasangan ini merupakan anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) Wono Lestari, kelompok yang sejak 2020 menjalin kemitraaan dengan perusahaan restorasi melalui skema Naskah Kesepakatan Kerja Sama (NKK). Di tengah bentang hutan yang sedang dipulihkan, kebun mereka menjadi contoh bagaimana masyarakat berusaha bertahan dengan mengandalkan beragam komoditas.
Kini, hamparan kebun Mbah Man tidak hanya ditumbuhi karet. Di sela-sela tanaman utama itu tumbuh durian, kopi, kakao, petai, alpukat, manggis, duku, pinang, jengkol, hingga rambutan. Keragaman tanaman itu tidak hadir dalam semalam, melainkan hasil perjalanan panjang sejak ia mulai membuka dan menanam karet pada 2011.
Sebelum pohon karet cukup umur untuk disadap, Mbah Man mengandalkan tanaman pangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia menanam padi dan cabai untuk konsumsi keluarga. Di beberapa petak lahan, ubi menjadi sumber tambahan penghasilan sembari menunggu karet menghasilkan.
“Kalau dulu sebelum karet bisa disadap, ya tanam padi, cabai, ubi untuk makan dan tambahan biaya hidup,” ujarnya.
Keputusan menanam berbagai jenis tanaman terbukti membantu keluarganya menghadapi masa sulit. Saat pandemi Covid-19 melanda, harga karet sempat anjlok hingga sekitar Rp5.000 per kilogram. Pada saat itulah kakao menjadi penyelamat ekonomi rumah tangga mereka.
“Dulu waktu harga karet turun, kakao cukup membantu. Pernah panen sampai sekitar 90 kilogram,” kata Mbah Man.

Hingga kini, kebun kakao miliknya masih menjadi salah satu sumber pendapatan penting. Dalam satu kali panen, hasil kakao yang diperoleh dapat mencapai sekitar 2,5 kuintal.
Di tingkat kelompok, semangat diversifikasi tanaman juga terus didorong. Semangat perjalanan Mbah Man dan para petani di sana mempertahankan wanatani sampai sekarang tidak terlepas dari pendampingan WWF Indonesia.
Pada awal 2026, lembaga nirlaba yang bergarak untuk isu konservasi mendistribusikan bantuan bibit lewat program Restorasi Bersama Masyarakat (RBM). Dalam program ini mereka telah menyalurkan sebanyak 30.000 bibit untuk area penanaman seluas 300 hektare di landskap Bukit Tigapuluh.
Project Executant Bukit Tigapuluh Landscape WWF Indonesia Nazli Herimsyah mengatakan, rogram restorasi berbasis masyarakat di Landskap Bukit Tigapuluh lahir dari kebutuhan untuk menjawab tantangan ekologis dan sosial secara terpadu.
Pendekatan ini menurut Nazli tidak hanya bertujuan memulihkan ekosistem yang terdegradasi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mengurangi konflik manusia dan satwa liar, memperkuat pengelolaan kolaboratif, serta memastikan keberlanjutan konservasi melalui keterlibatan aktif masyarakat sebagai pelaku utama dalam pengelolaan landscape.
“Restorasi tidak hanya dipandang sebagai kegiatan penanaman pohon, tetapi sebagai strategi membangun hubungan yang harmonis antara manusia dan alam dalam satu bentang landskap yang berkelanjutan,” kata Nazli melalui keterangan tertulisnya.
Sementara itu, Ketua KTH Wono Lestari, Fathul Mubin (43), mengatakan kelompoknya saat ini beranggotakan 27 orang. Meski beberapa anggota memilih keluar, kekompakan kelompok tetap terjaga.
Luas garapan setiap anggota berbeda-beda, mulai dari sekitar satu hektare hingga lebih. Komoditas yang dibudidayakan pun beragam. Selain karet, sebagian anggota juga menanam kelapa sawit.
Fathul mengakui ia tidak bisa melarang anggota menanam sawit. Menurutnya, setiap komoditas memiliki fungsi ekonomi yang berbeda bagi keluarga petani.
“Kalau karet sudah menghasilkan, itu bisa jadi penghasilan harian. Kalau sawit hasilnya bulanan dan biasanya dipakai untuk biaya sekolah anak,” ujarnya.
Meski demikian, Fathul menilai ketergantungan pada satu komoditas bukan pilihan yang bijak. Pengalaman fluktuasi harga membuat para petani menyadari pentingnya memiliki sumber pendapatan yang beragam.
“Kalau kita hanya membayangkan tanam sawit dan semua wilayah ini jadi sawit, itu juga tidak bagus. Kalau harga sawit turun, kita tidak punya komoditas andalan lagi,” katanya.
Kesadaran itulah yang mendorong kelompok tani terus mengembangkan pola agroforestri dengan memadukan tanaman perkebunan, buah-buahan, dan pohon bernilai ekonomi lainnya. Upaya tersebut mendapat dukungan dari program restorasi berbasis masyarakat yang diinisiasi WWF Indonesia.
Melalui program itu, anggota kelompok memperoleh berbagai bantuan, mulai dari bibit tanaman hingga pelatihan. Bibit yang ditanam antara lain kelengkeng, durian, kopi, kakao, petai, dan gaharu. Bibit tersebut dikembangkan masyarakat, kemudian dibeli oleh WWF Indonesia untuk ditanam kembali di lahan petani.
Selain penyediaan bibit, anggota kelompok juga mendapatkan pelatihan pembuatan pupuk kompos guna meningkatkan kualitas perawatan tanaman.
Menurut Fathul, skema restorasi juga memberi nilai ekonomi tambahan bagi masyarakat. Bibit yang berhasil mereka kembangkan memiliki harga beli yang berbeda-beda. Bibit kopi dihargai sekitar Rp4.000 per batang, kakao Rp5.000, petai Rp8.000, dan gaharu Rp5.000.
Namun keberhasilan program tetap bergantung pada komitmen petani. Dalam skema restorasi tersebut, bibit yang mati menjadi tanggung jawab petani untuk diganti. Pemantauan pertumbuhan tanaman dilakukan secara berkala, termasuk melalui aplikasi Reconnect Plus.
“Kalau ada bibit yang mati saat pemantauan, kami ganti. Perkembangannya juga dipantau melalui aplikasi,” kata Fathul.
Bagi Mbah Man, seluruh proses itu pada akhirnya bermuara pada satu tujuan sederhana: memastikan kebun tetap produktif dan mampu menopang kehidupan keluarga.
Di usia yang tak lagi muda, ia masih merawat beragam tanaman di lahannya, sembari berharap pohon-pohon yang ditanam hari ini menjadi penyangga ekonomi bagi tahun-tahun yang akan datang. Ia sadar kebunnya berada di kawasan hutan, sehingga apa yang ia tanam pun keberlanjutannya mesti dijaga.