Beselang.id adalah media independen nirlaba yang dikelola secara kolektif. Dukung dengan berdonasi agar kami terus bekerja demi kepentingan publik. Donasi melalui bit.ly/donasibeselang
SEEKOR GAJAH Sumatra liar bernama Mael sempat mendekati permukiman dan perkebunan warga di Bentang Alam Bukit Tigapuluh, Kabupaten Tebo, Jambi. Satwa jantan ini sudah berulang kali melintasi kawasan tersebut dalam beberapa bulan terakhir.
Sebagai langkah mitigasi, Pusat Informasi dan Konservasi Gajah (PIKG) Tebo telah mengerahkan beberapa ekor gajah jinak beserta mahout (pawang gajah). Gajah betina bernama Tiara dan mahoutnya diposisikan di depan untuk berinteraksi dengan Mael. Sementara itu, gajah jantan bernama Rendo bersiaga di posisi belakang.
Berkat interaksi yang intens, Mael akhirnya luluh dan mau mengikuti Tiara. Di bawah arahan mahout Tiara, gajah liar tersebut berhasil digiring menjauh dari permukiman warga.
“Kita giring pelan-pelan. Meski tiba-tiba dia ke arah berbeda dan di belakang kita, kita giring terus. Itu lama. Alhamdulillah menjauh. Tidak jadi masuk kampung,” ujar Sugianto, mahout gajah Tiara, awal Mei 2026.
Menurut Sugianto, Mael memang kerap mendekati permukiman dan bahkan sering mendatangi area PIKG demi berinteraksi dengan gajah-gajah betina di sana. Daya tarik Tiara selalu sukses membuat Mael menurut untuk dituntun kembali pulang ke dalam hutan.
Guna mengantisipasi konflik serupa di masa depan, pihak PIKG tidak hanya bergerak saat ada kejadian. Mereka juga rutin menggelar patroli bersama gajah jinak sebagai langkah pencegahan dini demi menjaga keharmonisan antara manusia dan satwa liar.
Lima Ekor Gajah Jinak Dirawat di PIKG Tebo
Terdapat lima ekor gajah jinak yang dirawat di PIKG Tebo sejak tahun 2021. Tiga di antaranya merupakan gajah betina, yakni Tiara, Juwita, dan Kalangi, yang berasal PIKG Lahat dan PKG Padang Sugihan. Lalu, dua gajah jantan, yaitu Leo dan Rendo, yang berasal dari Way Kambas, Lampung. Semua gajah ini terlatih untuk menghalau gajah liar dan melakukan.
Lima ekor gajah itu diberikan pakan dan dimandikan secara rutin. Para gajah ini setiap hari dibawa ke lokasi angon atau tempat pakan alami di hutan.
Para gajah ini cukup ramah lantaran sudah dirawat dengan baik dan sering berinteraksi dengan manusia. Namun, ada kalanya mood mereka jelek sehingga dibiarkan selama beberapa jam sampai tenang.
“Dibiarkan dahulu. Kalau didekati, kita yang habis. Kalau sudah tenang, baru kita dekati,” kata Agus Rembo, mahout gajah Rendo.
Di PIKG Tebo, Agus menjadi mahout gajah Rendo. Menjadi seorang mahout bagi Agus bukan sekadar memberi perintah, melainkan seni memahami gajah. Setiap pawang punya garis waktu yang berbeda untuk bisa menyelami karakter gajah yang dipegangnya.
Klaim “jinak dan terlatih” bukan jaminan gajah akan langsung menerima kehadiran mahout baru. Kdekatan harus ditanam pelan-pelan lewat rutinitas harian, mulai dari menyodorkan makanan, elusan di belalai, hingga penyebutan nama yang diulang-ulang.
“Gajah baru benar-benar jinak kalau sudah hafal suara dan bau badan kita,” ujar Agus.
Agus menjelaskan bahwa bahasa tubuh gajah turut menunjukkan emosinya. Telinga yang berkepak aktif menandakan hati yang gembira dan nyaman. Namun, jika telinga itu mendadak tegang dan tak bergerak, mahout harus segera waspada.
“Kalau telinganya tegang, itu tanda dia lagi agresif. Jangan sesekali mendekat, didiamkan saja dulu sambil terus kita pantau,” pesannya.
Gajah, kata Agus, juga memiliki fase naik-turun suasana hati layaknya manusia. Menurut Agus, gajah paling penurut sekalipun pasti akan mengalami fase agresif setidaknya tiga bulan sekali.
Saat gajah sedang mood swing, mereka cenderung acuh, tidak menengok saat dipanggil, dan sulit diatur. Pilihan paling bijak bagi pawang adalah mundur selangkah, membiarkannya tenang, sambil tetap menyuplai makanan bernutrisi tinggi.
“Kalau masa nakalnya kambuh, biasanya tiga bulan sekali, dia sama sekali tidak bisa dikendalikan. Kita mengalah dulu, biarkan dia sendiri. Bahaya buat kita kalau dipaksakan,” kata Agus.
Agus mengatakan Rendo sempat mengalami pembengkakan pada kakinya. Kondisi ini mengindikasikan bahwa gaja tersebut mengalami malnutrisi.
Berkat perawatan yang intens serta diberikan vitamin B kompleks dan makan teratur, gajah berusia sekitar 34 tahun itu akhirnya pulih. Bahkan, berat badannya naik dari 2,7 ton menjadi 3, ton.
“Dahulu ada bengkak di kaki. Sebulan dua kali suntik. Kuncinya perawatannya. Sekarang 5 bulan tidak suntik. Target saya itu 3,5 ton. Jadi kurang 400 kilogram. Masalahnya lahan angon kurang,” ujarnya.
Butuh Area Pakan Lebih Luas
Dalam memenuhi pakan, gajah itu biasa dibawa ke area angon atau tempat pakan alami di hutan. Di sana gajah tersebut menyantap rerumputan, dedaunan, dan akar-akaran. Selain itu, gajah juga diberikan buah-buahan sebagai cemilan.
PIKG Tebo memiliki luas 5,4 hektare. Luas area ini belum mencukupi pasokan makanan yang ideal bagi 5 ekor gajah jinak di sana.
“Area angina kita terbatas. Untuk sementara kita menumpang di area kebun yang belum dibuka,” kata Edi, Koordinator Mahout PIKG Tebo.
Di berharap area angon gajah ditambah sehingga gajah jinak di sana lebih sejahtera.
Masyarakat Tanam Pakan Gajah
Menanggapi keterbatasan itu, Husein, masyarakat setempat, telah menggunakan lahannya untuk mananam pakan gajah. Dia menanam king grass atau rumput gajah di lahan seluas satu hektare.
“Kami diasarankan untuk membantu menanam king grass untuk kebutuhan gajah. Rencananya mau ditambah karena sampai saat ini masih kekurangan pakan gajah. Untuk penambahannya nanti, berupa king grass, pisang, nanas, dan tebu. Total seluasnya 4 hektare,” katanya.
Husein mengatakan king grass dipanen satu kali dalam dua minggu. Satu kali panen bisa mencapai lima ton. King grass ini langsung dibeli PIKG Tebo dengan harga Rp 500.000 per ton.
Langkah swadaya masyarakat ini kian kuat berkat sokongan World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia. Lembaga internasional ini mengucurkan bantuan berupa bibit tanaman kegemaran gajah kepada petani untuk dioptimalkan di lahan pengayaan seluas 2 hektare.
Habitat Gajah Terfragmentasi
Luas Bentang Alam Bukit Tigapuluh secara keseluruhan mencapai sekitar 450.000 hektare, yang terbagi mulai dari kawasan hutan konservarsi, kawasan hutan produksi hingga area penggunaan lain. Pemerintah Indonesia telah menetapkan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) seluas berkisar 144.223 hektare. Namun, kontur TNBT yang terlalu curam membuat banyak spesies yang dilindungi, terutama gajah Sumatra, justru kerap berada di luar kawasan taman nasional.
Tutupan hutan di bentang alam tersebut kian menyusut. Habitat satwa terfragmentasi akibat alih fungsi lahan. Kawasan ini telah dikuasai oleh empat perusahaan pemegang konsesi, yaitu PT Wira Karya Sakti (WKS), PT Multi Agro (perkebunan), PT Royal Lestari Utama Group (perkebunan karet), dan PT Alam Bukit Tigapuluh yang bergerak di bidang restorasi ekosistem. Selain itu, perluasan perkebunan kelapa sawit pun kian masif.
Tekanan terhadap habitat satwa juga dipicu oleh pembalakan liar ( illegal logging ), dan aktivitas pertambangan yang turut mencemari sungai. Dampaknya, konflik antara masyarakat dan gajah sumatera pun tak terelakkan.
Pagar listrik yang mengelilingi perkebunan warga dan perusahaan, turut mengancam nyawa satwa liar di lanskap tersebut. Pada Mei 2024, seekor gajah ditemukan mati akibat tersengat pagar listrik yang dipasang di perkebunan warga di Kabupaten Tebo. Menangapi kasus ini, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi mendesak pemerintah daerah dan masyarakat untuk segera mencabut pagar listrik yang membahayakan gajah serta satwa liar lainnya.
“Voltasenya sudah tidak terkontrol. Sudah kita komunikasikan berbagai pihak. Itu menjadi salah satu catatan yang sudah kita sampaikan. Di pemda juga dorong advokasi satgas, sehingga harapannya nanti penangangan inetaraksi negatif (antara gajah dan manusia) bisa dilakukan bersama-sama, tidak parsial,” kata Kepala Konservasi Wilayah II BKSDA Jambi, Martialis Puspito.

