Beselang.id adalah media independen nirlaba yang dikelola secara kolektif. Dukung dengan berdonasi agar kami terus bekerja demi kepentingan publik. Donasi melalui bit.ly/donasibeselang
Lanskap atau bentang alam Bukit Tigapuluh di Jambi menjadi salah satu hutan tropis datarn rendah yang sampai sekarang menghadapi banyak tekanan. Padahal bentang alam ini menyimpan nilai konservasi yang penting.
Berbagai spesies kunci, seperti Gajah Sumatra dan Harimau Sumatra hidup di lanskap ini. Tekanan dan berbagai kerusakan masih masih menghantuinya beberapa dekade terakhir. Perubahan tutupan hutan di bentang alam tersebut, berdampak pada fragmentasi habitat satwa dan muncul konflik manusia dan satwa.

Menjawab tantangan tersebut, WWF Indonesia pada awal 2026 melahirkan program Restorasi Bersama Masyarakat (RBM). Program ini diinisiasi dari petan untuk petani. Petani menyediakan bibit, kemudian bibit ditanam.
“Restorasi tidak hanya dipandang sebagai kegiatan penanaman pohon, tetapi sebagai strategi membangun hubungan yang harmonis antara manusia dan alam dalam satu bentang landscape yang berkelanjutan,” kata Project Executant Bukit Tigapuluh Landscape WWF Indonesia Nazli Herimsyah melalui keterangan tertulislinya yang diterima Beselang belum lama ini.
Untuk mendalami sejauh mana program restorasi dan dinamika pengelolaan lanskap Bukit Tigapuluh, Beselang mewawancarai Nazli Herimsyah. Berikut ini petikan wawancaranya yang dijawab melalui keterangan tertulisnya:
Bagaimana kondisi lanskap bentang alam Tigapuluh berdasarkan kajian WWF?
Lanskap Bukit Tigapuluh merupakan hutan tropis datarn rendah di Pulau Sumatera yang memiliki nilai konservasi tinggi dan berfungsi sebagai habitat penting bagi berbagai spesies kunci yang dilindungi, seperti Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), dan berbagai jenis satwa liar lainnya. Dimana tutupan hutannya sekarang hanya tersisa ± 191.400 ha atau 40% dari total lebih dari 450.000 ha, selain itu juga sebagai penopag kehidupan bagi ± 1.000 Masyarakat adat (Suku Talang Mamak (800 orang Suku Orang Rimba 210 orang (sumber: KKI Warsi) dan juga masyarakat lokal yang menggantungkan hidup disana serta landscape ini Juga di dominasi oleh 5 Konsesi.
Dalam beberapa dekade terakhir, Lanskap Bukit Tiga Puluh menghadapi berbagai tantangan berupa perubahan tutupan hutan, fragmentasi habitat, degradasi ekosistem, perambahan kawasan, serta meningkatnya interaksi negatif antara manusia dan satwa liar. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi kualitas habitat, menghambat pergerakan satwa liar, serta meningkatkan risiko konflik yang dapat mengancam keselamatan maupun sumber ekonomi masyarakat serta keberlangsungan populasi satwa liar yang dilindungi. Oleh karena itu, diperlukan upaya konservasi yang terencana, terpadu, dan berkelanjutan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan termaksud masyarak yang berdiam di dalamnya
Tekanan apa yang paling dominan terhadap keberlangsungan lanskap Bukit Tigapuluh?
Secara keseluruhan, tekanan yang paling dominan terhadap keberlangsungan Lanskap Bukit Tigapuluh adalah perubahan tutupan lahan yang menyebabkan fragmentasi habitat, yang kemudian memicu meningkatnya konflik manusia dan satwa liar, khususnya Gajah Sumatera, yang mengakibatkan kerusakan tanaman, kerugian ekonomi masyarakat, hingga ancaman terhadap keselamatan manusia dan satwa. Kedua tekanan ini saling berkaitan dan menjadi akar berbagai permasalahan konservasi di Lanskap Bukit Tigapuluh
Apa yang melatarbelakangi WWF Indonesia mencetuskan program restorasi berbasis masyarakat di lanskap Bukit Tigapuluh?
Program restorasi berbasis masyarakat di lanskap Bukit Tigapuluh lahir dari kebutuhan untuk menjawab tantangan ekologis dan sosial secara terpadu. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan memulihkan ekosistem yang terdegradasi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mengurangi konflik manusia dan satwa liar, memperkuat pengelolaan kolaboratif, serta memastikan keberlanjutan konservasi melalui keterlibatan aktif masyarakat sebagai pelaku utama dalam pengelolaan lanskap. Dengan demikian, restorasi tidak hanya dipandang sebagai kegiatan penanaman pohon, tetapi sebagai strategi membangun hubungan yang harmonis antara manusia dan alam dalam satu bentang landscape yang berkelanjutan.
Apakah sudah ada indikator keberhasilan restorasi yang kini sedang dijalankan?
Untuk Program Restorasi Berbasis Masyarakat ini, kami melihat indikator keberhasilan hingga juni 2026 ini adalah: Secara umum, hingga Juni 2026 Program Restorasi Berbasis Masyarakat menunjukkan perkembangan yang positif. Keberhasilan program tidak hanya diukur dari 30.000 jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga dari tingkat kelangsungan hidup tanaman (setidaknya memiliki survival rate 80%), keterlibatan aktif masyarakat (7 kelompok Masyarakat di 2 Desa (Suo-suo dan Muara Kilis) dengan 112 masyarakt terlibat), penguatan kelembagaan lokal, serta kontribusinya terhadap pemulihan fungsi ekosistem dan pengurangan tekanan terhadap habitat satwa liar–setidaknya berkonstribusi pada 163,62 ha.
Indikator-indikator tersebut akan terus dipantau secara berkala melalui kegiatan monitoring dan evaluasi dengan aplikasi reconnect+ untuk memastikan keberlanjutan hasil dalam jangka Panjang
Bagaimana solusi untuk tanaman yang mati, karena di beberapa kelompok tani tanaman yang mati itu kebanyakan tanaman hutan seperti Meranti, kemudian Alpukat?
Kematian tanaman merupakan hal yang umum dijumpai dalam kegiatan restorasi, terutama pada fase awal setelah penanaman. Penyebabnya yang dijelaskan oleh Masyarakat sangat beragam, diantaranya adalah banjir akibat hujan terus menerus yang terjadi pada bulan maret hingga April 2026 lalu, kemudian tanaman yang tertimbun oleh lumpur, kemudian tanaman kekeringan karena jauh dari sumber air, ada juga factor kualitas bibit karena bibit yang mebutuhkan aklimatisasi/penyesuai akibat bibit berasal dari cabutan (bibit yang belum siap tanam pada Lokasi penanaman), gangguan Hama dan Penyakit.
Adapun solusi untuk tanaman yang mati ini, WWF Indonesia meminta masyarakat menyediakan 20% jumlah bibit akan disulam untuk bibit-bibit yang mati, kemudian secara berkala dilakukan perawatan seperti penyiraman atau pemberian pupuk kompos tambahan, dengan demikian ownership/rasa kepemilikan akan meningkat untuk menjaga atau merawat tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.
Keterangan foto utama: lanskap Bukit Tigapuluh (WWF Indonesia)