Beselang.id adalah media independen nirlaba yang dikelola secara kolektif. Dukung dengan berdonasi agar kami terus bekerja demi kepentingan publik. Donasi melalui bit.ly/donasibeselang
SEJUMLAH PETANI di Bentang Alam Bukit Tigapuluh, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi, aktif terlibat dalam program restorasi berbasis masyarakat. Didampingi oleh World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia, mereka menerapkan sistem agroforestri atau tumpang sari.
Praktik ini tidak hanya bertujuan memulihkan ekosistem yang rusak, tetapi juga menjadi strategi jitu untuk memitigasi konflik antara manusia dan gajah. Sebagai langkah antisipasi konflik, petani menanam komoditas yang tidak disukai mamalia besar itu, seperti kopi, alpukat, kemiri, dan lainnya. Tak hanya itu, mereka juga mengombinasikannya dengan tanaman hutan bernilai tinggi, seperti meranti dan maghoni.
Terdapat tujuh kelompok yang diberdayakan WWF dalam program. Kelompok-kelompok ini berada di Desa Muara Kiilis dan Suo-suo, yakni Kelompok Tani Hutan (KTH) Sepenat Unggul, KTH Mekar Melati, Dusun Jelapang, KTH Bukit Tigapuluh, KTH Bukit Indah Makmur, dan KTH Wono Lestari. Selain pendampingan, kelompok petani ini juga mendapatkan bantuan sekitar 30.000 bibit tanaman agroforestri untuk ditanam sejak awal Februari 2026.
Hasil penanaman ini terdeteksi secara digital dengan aplikasi Reconnect Plus atau Restoration for Connectivity yang dikembangkan WWF. Aplikasi ini membantu petani untuk memonitor apa yang sudah ditanam di lokasi kelompoknya.
Salah satu petani yang memanfaatkan aplikasi tersebut adalah Yoyok, anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) Sepenat Unggul. Pada Rabu (6/5/2026) lalu, ia tampak sedang menanam kopi berdampingan dengan tanaman lain. Usai menanam, Yoyok langsung membuka aplikasi Reconnect Plus di gawai miliknya.
Logo panda muncul di layar yang digenggamnya. Ia kemudian mendokumentasikan dan mendata tanaman tersebut, serta memasukkan titik koordinat.
Community Development Officer WWF Indonesia, Rara Yulia Putri, mengatakan para petani saat menggunakan aplikasi ini, memasukkan data, mulai dari nama petani yang menanam, nomor tanaman, hingga jenis tanaman. Kondisi tanamannya juga disampaikan dalam aplikasi tersebut.
“Apakah tanamannya normal atau bagaimana? Lalu bagaimana kondisi sekitarnya, apakah ada gulma? Itu nanti tinggal klik saja. Jadi petani tidak perlu susah mengetik panjang,” ujarnya.
Dia mengatakan pendataan di lokasi penanaman dapat dilakukan petani secara offline. Hanya proses input data saja yang memerlukan sinyal.
“Jadi, untuk pengambilan data ini bisa dilakukan secara online maupun offline. Gimana memasukkan datanya di Dashbord, saat itulah petani butuh sinyal. Biasanya mereka ke rumah atau warung yang punya wifi, di situlah mereka upload. Bisa terupload 100 batang atau 100 informasi,” ujaranya.
Para petani, khususnya KTH Bukit Indah Makmur, cukup antusias mempelajari penggunaan Reconnect Plus. Terdapat petani perempuan di kelompok ini yang bertugas mendata tanaman dengan aplikasi tersebut.
“Terus kelompoknya terbuka dengan kegiatan seperti ini. Jadi, saat diajari pelatihan Reconnect, semuanya tampak berusaha memahami. Namun, tidak semua petani yang bisa menggunakan ponsel pintar. Jadi ketua kelompok membagi siapa saja yang bisa bertugas mengambil data dengan reconnect,” kata Rara.
Hingga 28 Mei 2026, terdapat 28.902 batang yang sudah ditanam oleh tujuh kelompok yang didampingi WWF. Jenis tanaman ini, mulai dari kopi, alpukat, durian, kelengkeng, kakao, petai, meranti, medang, maghoni, dan lainnya. Setelah enam bulan, seluruh tanaman ini akan diverifikasi dan diata ulang. Bila terdapat tanaman yang mati, akan dilakukan penanaman kembali.
“Yang didata mulai dari tinggi pohon dan diameter tanaman. Kalau tanaman mati, akan kita lakukan penyulaman. Jadi ini adalah kegiatan restorasi, bukan pananaman lalu kita tinggalkan,” ujar Rara.
Rara mengatakan program Restorasi Bersama Masyarakat di Landscape Bukit Tigapuluh bertujuan memulihkan ekosistem yang tergradasi akibat illegal logging dan alih fungsi lahan ke perkebunan yang merusak lingkungan. Pemulihan ini tentu juga untuk mencegah bencana ekologis di kawasan tersebut.
Agroforestri untuk Berdamai dengan Gajah
Penerapan pola agroforestri sebenarnya sudah lama akrab bagi Apriyadi, anggota KTH Bukit Tigapuluh, dan para petani lain di Desa Muara Kilis. Dari pengalaman empirisnya, Apri juga mengetahui sejumlah jenis tanaman yang tidak disukai gajah.
Pengalaman pertama terjadi pada tahun 2014 ketika Apri mendengar suara gajah yang baginya terdengar seperti terompet pada malam hari. Saat memeriksa perkebunan keesokan harinya, ia menemukan bahwa tanaman karet, petai, dan durian tidak dirusak oleh gajah.
“Besoknya, ada tanaman karet, petai, durian, itu tidak diapa-apakan. Tanaman itu belum lama ditanam. Hanya padi yang diambil, sementara tanaman kayu tidak diganggu,” kata Apri.
Kemudian pada tahun 2018, ujar Apri, terdapat gajah yang hendak memasuki permukiman warga Dusun Benteng Makmur. Masyarakat setempat kemudian berusaha menggiring gajah tersebut menjauh dari permukiman dan perkebunan. Namun, gajah justru masuk ke perkebunan jeruk dan menunjukkan sikap tidak nyaman.
“Ternyata ada tanaman yang produktif, tetapi tidak disukai gajah. Dahulu kami tidak tahu. Pada saat digiring (ke kebun jeruk), dia kebingungan seperti masuk perangkap,” kata Apri.
Berdasarkan rangkaian kejadian di atas, Apri menyimpulkan bahwa tanaman yang tidak disukai gajah dapat dimanfaatkan sebagai benteng alami. Tanaman-tanaman ini dinilai efektif untuk melindungi perkebunan sawit warga dari jalur gajah.
Apri mengatakan tanaman agroforestri lebih aman dari perkebunan monokultur sawit. Sebab, tanaman sawit kerap disantap gajah. Karena itu, ia tidak ingin hanya bergantung dengan sawit. Demi menambah pendapatan sekaligus menghindari konflik dengan satwa, Apri kini mengembangkan pertainan kopi dengan pola agroforestri di lahan tiga hektare.
Ia juga menanam petai, kemiri, durian, dan tanaman lainnya. Aktivitas pertanian dengan pola agroforestri kian menguat karena ada pendambingan dan bantuan bibit dari WWF Indonesia.
“Nilai plusnya banyak di agroforestri dari pada monokultur,” katanya.
Menurut Apri, produksi kopi robusta di Tebo saat ini belum cukup banyak untuk memenuhi permintaan pasar. Karena itu, potensi pertanian kopi terbilang besar untuk meningkatkan perekonomian di kawasan tersebut.
“Malah bisa disebut kurang untuk memenuhi permintaan. Kebutuhannya lebih besar. Harga kopi di sini Rp50.000 per kilogram,” katanya.
Dari pengalaman berkebun serta interaksi negatif dengan gajah, pandangan para petani di Bentang Alam Bukit Tigapuluh perlahan berubah terhadap hutan dan kebun. Alih-alih terus memperluas perkebunan sawit, sebagian petani mulai berpikir bagaimana hidup berdampingan dengan gajah liar yang melintasi kawasan tersebut.
Mengelola Rumah Pembibitan
Tidak hanya menerapkan pola agroforestri di kawasan Bentang Alam Bukit Tigapuluh, para petani juga mengelola rumah pembibitan. Salah satu kelompok yang mengelola greenhouse ini, yaitu KTH Sepenat Unggul.
Ketua KTH Sepenat Unggul, Sofwan (45), mengatakan sejauh ini terdapat bibit tanaman kopi, pohon meranti, alpukat, dan durian. Bibit ini disemai secara sederhana menggunakan tanah dan pupuk alami yang juga didikung WWF Indonesia. Bila tanaman ini sudah cukup besar, akan langsung ditanam di kawasan kelompok.
“Pembibitan ini dari awal bulan April. Tujuannya untuk meningkat ekonomi masyarakat di sini, sekaligus untuk supaya lahan bisa seperti hutan kembali. Harapannya seperti itu,” katanya.
Dia mengatakan kelompoknya sudah melakukan penanaman di kawasan, yakni 25 batang alpukat, 25 batang durian, dan 1.000 batang tanaman kopi.
Sebagai pekebun, Sofwan sendiri beberapa kali mempunyai pengalaman bahaya atau interaksi negatif dengan gajah. Namun, ia tidak pernah menyimpan rasa benci terhadap satwa liar tersebut. Dia memahami gajah hanya sedang mencari makan.
“Kami di sini tidak pernah anggap gajah musuh. Dia juga cari makan,” katanya.

