Peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat tidak cukup hanya mengandalkan potensi tanaman. Ketepatan dalam menentukan waktu panen, keterampilan memanen, hingga penanganan tandan buah segar (TBS) setelah dipanen turut menentukan seberapa optimal hasil kebun dapat dimanfaatkan.
Ketika tahapan tersebut tidak dilakukan dengan benar, potensi kehilangan hasil dapat meningkat dan berdampak pada pendapatan pekebun. Persoalan petani kelapa sawit ini menjadi salah satu perhatian dalam Pelatihan Panen dan pascapanen kelapa sawit bagi pekebun di Provinsi Jambi. Sebanyak 118 pekebun dari Kabupaten Tebo, Sarolangun, dan Batanghari mengikuti kegiatan yang berlangsung pada 7–11 Oktober 2026 tersebut.
Pelatihan ini merupakan bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Perkebunan Kelapa Sawit Tahun 2026 melalui kolaborasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, dan IPB Training.
Ketua Tim Pelatih Pelatihan IPB, Prof. Dr. Ir. Hariyadi, MS, menekankan pentingnya ketepatan teknik pemanenan dalam menentukan hasil perkebunan. “Bagaimana cara pemanenan yang baik akan menentukan hasil. Jadi budidaya dan panen itu saling melengkapi,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kegiatan panen tidak dapat dipandang sekadar sebagai pekerjaan mengambil buah dari pohon. Pemanenan membutuhkan pengetahuan teknis agar tandan yang dipilih sesuai kriteria kematangan, proses pemotongan dilakukan dengan tepat, dan hasil yang telah dipanen dapat ditangani secara baik.
Dalam pelatihan ini, peserta mempelajari kriteria matang panen, sistem dan organisasi panen, persiapan sarana serta prasarana, hingga teknik pemanenan. Materi tersebut menjadi bekal bagi pekebun untuk memahami tahapan kerja yang perlu diperhatikan sebelum dan selama panen berlangsung.

Penentuan kematangan buah menjadi salah satu aspek penting karena berkaitan dengan mutu hasil. Pekebun perlu mengenali indikator buah yang siap dipanen dan menghindari pemanenan yang tidak sesuai kriteria. Ketepatan tersebut juga perlu diikuti pengumpulan TBS dan brondolan secara cermat agar hasil yang telah tersedia di kebun tidak terabaikan.
Selain keterampilan teknis, peserta mendapatkan materi mengenai taksasi produksi. Pengetahuan ini membantu pekebun memahami cara memperkirakan potensi hasil berdasarkan pengamatan kondisi tanaman di lapangan. Informasi tersebut dapat menjadi pertimbangan dalam menyusun rencana kerja, menyiapkan kebutuhan tenaga panen, dan memperkirakan kebutuhan pengangkutan.
Pembelajaran berlanjut pada aspek pascapanen, meliputi penanganan TBS dan brondolan, pengangkutan, serta ketelusuran hasil. Tahapan ini penting karena pekerjaan belum selesai ketika tandan berhasil dipotong. Hasil panen masih harus dikumpulkan, diperiksa mutunya, dan dikelola sebelum melanjutkan proses berikutnya.
Sebanyak 60 peserta berasal dari Kabupaten Tebo, sedangkan Kabupaten Sarolangun dan Kabupaten Batanghari masing-masing mengirimkan 29 peserta. Selama pelatihan, peserta mengikuti pembelajaran di kelas, diskusi, praktikum, serta kunjungan lapangan ke PTPN IV Regional 4 di Tanjung Lebar, Kabupaten Muaro Jambi.
Kunjungan lapangan memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengamati penerapan teknik panen, penanganan hasil, serta proses grading dan sortasi TBS. Melalui pengamatan tersebut, peserta dapat melihat bagaimana pengetahuan teknis diterapkan dalam kegiatan perkebunan dan memahami keterkaitan antara pemanenan dengan pengelolaan hasil setelah panen.
Pembukaan pelatihan ini turut dihadiri sejumlah perwakilan pemerintah pusat dan daerah, termasuk Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, Henrizal, S.Pt., M.M., serta perwakilan dari instansi terkait di Kabupaten Tebo, Sarolangun, Batanghari, dan wilayah lainnya. Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut mencerminkan keterlibatan berbagai pihak dalam mendukung peningkatan kapasitas SDM perkebunan.
Melalui pelatihan ini, pekebun diharapkan dapat mengevaluasi kebiasaan kerja yang selama ini diterapkan dan memperbaiki tahapan panen maupun pascapanen yang belum optimal.
Peningkatan keterampilan tersebut diharapkan membantu pekebun menjaga mutu hasil, mengurangi potensi kehilangan produksi, dan meningkatkan efektivitas pengelolaan kebun.
Pada akhirnya, peningkatan produktivitas perkebunan rakyat tidak hanya bergantung pada besarnya potensi produksi, tetapi juga pada kemampuan pekebun mengelola setiap tahapan pekerjaan secara tepat. “Penguasaan teknik panen dan pascapanen menjadi salah satu bekal penting untuk mendukung usaha perkebunan kelapa sawit yang lebih produktif dan berkelanjutan,” ujar Prof Hariyadi.