Beselang.id adalah media independen nirlaba yang dikelola secara kolektif. Dukung dengan berdonasi agar kami terus bekerja demi kepentingan publik. Donasi melalui bit.ly/donasibeselang
Di tengah hamparan kebun karet di Dusun Benteng Makmur RT 14, Desa Muara Kilis, Kecamatan Tebo Tengah Ilir, Kabupaten Tebo, seorang perempuan lanjut usia tampak sibuk memeriksa tanaman yang tumbuh di sela-sela pohon karetnya. Namanya Suyati (70), satu-satunya anggota perempuan yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) Sepenat Unggul.
Sehari-hari, Suyati menggantungkan hidup dari menyadap karet. Di usianya yang tak lagi muda, ia tinggal sendiri sambil mengurus kebun. Kebun karet seluas sekitar satu hektare itu menjadi harta satu-satunya dan menjadi sumber penghidupan utama bagi keluarganya.
Namun kini, kebun itu tidak lagi hanya ditumbuhi karet. Di sela-sela pohon yang telah lama ia rawat, tumbuh beragam tanaman buah dan pohon keras seperti jeruk, durian, hingga meranti. Penanaman itu merupakan bagian dari Program Restorasi Bersama Masyarakat (RBM) yang digagas WWF Indonesia.
“Bibitnya diberikan melalui program restorasi. Kami menanam di antara tanaman karet yang sudah ada,” ujar Suyati ketika ditemui di rumah tetangganya pada Jumat, 5 Juni 2026.
Disela-sela rewang membantu menyiapkan acara yasianan tiga hari kematian tetangganya itu, Suyati menceritakan ihwal mengikuti program restorasi bersama masyarakat. Ia mengaku senang mengikuti program ini, karena untuk memperkaya tanaman di kebunnya hanya seluas 1 hektare itu.
Pendampingan yang dilakukan WWF Indonesia itu difokuskan pada penerapan praktik berkelanjutan melalui penguatan budidaya karet, peningkatan kapasitas pascapanen, serta upaya perlindungan keanekaragaman hayati di sekitar kawasan hutan.
Bibit tanaman untuk program restorasi itu sendiri berasal dari masyarakat. Masyarakat dampingan mendapatkan kompensasi dari bibit yang mereka kembangkan. Selain itu, dalam program tersebut, pemantauan penanaman dilakukan menggunakan aplikasi Reconnect Plus. Melalui aplikasi itu, perkembangan tanaman yang ditanam masyarakat dapat dipantau secara berkala.
“Kalau bibit yang ngembangin masyarakat, seperti bibit kopi itu dari kita. Kalau bibit buah-buahan dari luar,” kata Ketua KTH Sepenat Unggul Sofwan
KTH Sepenat Unggul sendiri baru terbentuk pada 2024. Ketua kelompok, Sofwan, mengingat kembali awal mula pembentukannya. Saat itu, sejumlah warga berkumpul di Rumah Ketua Dusun Benteng Makmur, Bambang Kusnadi, untuk membahas pembentukan kelompok tani hutan.
“Kami mengajak siapa saja yang mau bergabung. Karena kalau tidak ada kelompok, bantuan dan program pendampingan tidak bisa disalurkan,” kata Sofwan.
Sejak terbentuk, anggota kelompok mendapatkan berbagai pelatihan, terutama terkait pengelolaan kebun karet. Mereka dibekali tentanga tata cara merawat tanaman karet hingga teknik menyadap yang baik dan benar.
Selain itu, anggota kelompok juga menerima bantuan bibit tanaman kehutanan dan perkebunan seperti kopi, jeruk, durian, dan meranti. Pola penanamannya dilakukan dalam jalur selebar sekitar 12 meter, kemudian diselingi tanaman kopi pada bagian sela-selanya.
Meski demikian, tidak semua tanaman yang ditanam memberikan hasil sesuai harapan. Sofwan mengakui tanaman kopi justru menunjukkan perkembangan paling baik.
“Kopi tumbuh bagus hampir semuanya jadi. Kalau jeruk, kami masih kurang memahami cara menanam dan merawatnya. Kemudian untuk alpukat juga banyak yang tidak berhasil,” ujarnya.
Menurutnya, tingkat keberhasilan tanaman alpukat rendah karena minimnya pengetahuan anggota kelompok mengenai teknik budidaya dan perawatannya. Berbeda dengan durian yang dinilai memiliki tingkat keberhasilan lebih tinggi.
“Kalau durian banyak yang berhasil tumbuh,” katanya.
Sementara itu, beberapa jenis tanaman lain juga menghadapi kendala. Bibit yang ditanam banyak yang mati setelah menunjukkan gejala daun rontok dan mengering.
Sementara itu, Community Development Officer WWF Indonesia, Rara Yulia Putri melalui keterangan tertulisnya mengatakan, program restorasi tersebut disandingkan dengan teknologi atau penggunaan aplikasi Aplikasi Reconnect+. WWF Indonesia telah menyalurkan sebanyak 30.000 bibit untuk area penanaman seluas 300 hektare.
Penggunaan aplikasi ini kata Rara, tidak hanya berfokus pada aksi penanaman pohon, melainkan menggunakan pendekatan pengelolaan restorasi berbasis WebGIS (Web-based Geographic Information System). Aplikasi ini dapat memastikan tingkat keberhasilan restorasi dengan melakukan monitoring kondisi penanaman berbasis geotagging dan akan diolah dalam bentuk tingkat hidup penanaman.
“Proses pemantauan ini merupakan dasar utama bagi fase pemeliharaan dalam siklus penanaman, sehingga akan mendukung upaya memastikan keberhasilan tingkat penanaman,” kata Rara.
Keberhasilan restorasi sambung Rara, dilihat dari tingkat survival rate dan tingkat pertumbuhan yang akan dimonitor. Mereka menerapkan 2 petak ukur, yakni petak ukur permanen (PUP) yang akan dilakukan monitoring rutin di tempat yang sama dengan luasan yang representatif untuk melihat tingkat pertumbuhan tanaman.
“Kemudian kami juga membuat petak ukur yang dipilih dengan metode stratified sampling with random start yang dibuat secara khusus untuk melihat survival rate (hidup/ mati). Lokasi petak ukur ini dibedakan tiap kali monitoring untuk menghindari bias,” ujar Rara.
Meski menghadapi berbagai tantangan, upaya restorasi terus dilakukan. Bagi Suyati, menanam pohon-pohon baru di kebun karetnya bukan sekadar mengikuti program bantuan, melainkan juga investasi masa depan bagi anak dan cucunya.
Di antara deretan pohon karet yang setiap pagi ia sadap, tunas-tunas durian, kopi, dan meranti tumbuh perlahan. Menjadi harapan baru bagi seorang perempuan yang selama puluhan tahun menggantungkan hidup dari getah karet, sekaligus ikut menjaga tutupan hutan melalui kebunnya sendiri. “Kami hanya ingin sejahtera dari apa yang kita tanam hari ini,” kata Sayuti.



Leave feedback about this