Beselang.id adalah media independen nirlaba yang dikelola secara kolektif. Dukung dengan berdonasi agar kami terus bekerja demi kepentingan publik. Donasi melalui bit.ly/donasibeselang
SEEKOR BAYI gajah Sumatra (elephas maximus sumatranus) terekam kamera di kawasan bentang alam Bukit Tigapuluh pada akhir November lalu. Bersama empat gajah dewasa, bayi gajah ini menulusuri pepohonan, melewati semak belukar, hingga menyantap tumbuhan di lokasi tersebut.
Lima ekor gajah ini tampak bergerak di area penggunaan lain (APL) yang berada di Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi. Mereka membuat formasi waspada untuk melindungi sang bayi.
Kelompok yang relatif kecil ini juga terlihat di tep area lubang tambang batu bara yang terbengkalai. Tidak hanya itu, di sekitar mereka terlihat pula aktivitas pembersihan lahan untuk membuka perkebunan.
Keberadaan kelompok gajah tersebut secara tidak langsung mengungkapkan bahwa populasi gajah masih mempunyai harapan untuk bergenerasi. Namun, situasi di sekitarnya menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan.
Luas Bentang Alam Bukit Tigapuluh secara keseluruhan lebih dari 500.000 hektare, yang terbagi mulai dari kawasan hutan konservarsi hingga kawasan hutan produksi. Pada tahun 1995, Pemerintah Indonesia menetapkan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) seluas berkisar 140 ribu hektare. Namun, kontur TNBT yang terlalu curam membuat banyak spesies yang dilindungi, terutama gajah Sumatra, justru kerap berada di luar kawasan taman nasional.
Data dari The World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia, menunjukkan tutupan hutan yang tersisa di bentang alam tersebut hanya mencapai sekitar 191.400 hektare. Kawasan ini telah diduduki empat perusahaan pemegang konsesi, yakni PT Wira Karya Sakti (WKS) seluas 38.336 hektare, PT Multi Argo seluas 8.147 hektare yang merupakan perusahaan perkebunan, PT Royal Lestari Utama Group seluas 72.549 hektare yang merupakan perusahaan perkebunan karet, dan PT Alam Bukit Tigapuluh sebagai yang menjadi perusahaan restorasi ekosistem seluas 38.665 hektare. Sementara perkebunan yang digarap masyarakat mencapai 67.089 hektare.

Tekanan terhadap habitat juga datang dari perambahan, illegal logging, dan ekspansi pertambangan yang turut mencemari sungai. Dampaknya, konflik antara masyarakat dan gajah Sumatra sulit terelakkan.
“Hilangnya habitat satwa liar, terdapat illegal logging, dan pertambangan yang juga mencemari sumber daya air. Timbul interaksi negatif yang terjadi antara masyarajat sekitar dengan gajah,” kata Community Development Officer WWF Indonesia, Rara Yulia Putri, Senin (30/12/2025).
Pagar listrik yang mengelilingi perkebunan masyarakat dan perusahaan turut mengancam nyawa satwa liar di lanskap ini. Pada Mei 2024 lalu, seekor gajah ditemukan mati karena tersengat pagar listrik yang dipasang di perkebunan warga di Tebo. Terkait hal ini, Balai Konservarsi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi telah mendorong pemerintah dan masyarakat agar mencabut pagar listrik yang mengancam gajah dan satwa lainnya.
“Voltasenya sudah tidak terkontrol. Sudah kita komunikasikan berbagai pihak. Itu menjadi salah satu catatan yang sudah kita sampaikan. Di pemda juga dorong advokasi satgas, sehingga harapannya nanti penangangan inetaraksi negatif (antara gajah dan manusia) bisa dilakukan bersama-sama, tidak parsial,” kata Kepala Konservasi Wilayah II BKSDA Jambi, Martialis Puspito.
Dia mengatakan populasi gajah Sumatra semakin kritis. Di Bentang Alam Bukit Tigapuluh, gajah Sumatra yang hidup diperkirakan berksiar 90 hingga 120 ekor.
“Tahun 2025 ini, ada tiga gajah mati karena keracunan pupuk,” ujar Puspito.
Selain bagi gajah Sumatra, Bentang Alam Tigapuluh juga menjadi habitat alami bagi harimau Sumatra, orangutan Sumatra, dan satwa liar lainnya. Kerusakan habitat hingga aktivitas perburuan liar, membuat para penghuni asli Bentang Alam Bukit Tigapuluh mendekati kepunahan.
Penanaman Pohon Bernilai Ekonomis
Sebagai upaya memulihkan ekosistem di sana, WWF Indonesia mengadakan program Restorasi Bersama Masyarakat di Landscape Bukit Tigapuluh. Peluncurun program ini bertempat di Kantor Bappeda dan Litbang Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi pada Senin (30/12/2025).
Peluncuran program ini dihadiri oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) Sepanat Unggul, KTH Dusun Jelapang, KTH Bukit 30, KTH Bukit Indah Makmur, dan KTH Wono Lestari. Hadir pula Sekretaris Kabupaten Tebo Septiansyah, Kepala Konservasi Wilayah II BKSDA Jambi Martialis Puspito, para kepala dinas, perwakilan dari KPHP, perwakilan dari PT Alam Bukit Tigapuluh, dan beberapa pihak lainnya.
Community Development Officer WWF Indonesia, Rara Yulia Putri, mengatakan dalam program ini masyarakat yang tergabung dalam kelompok tani menjadi aktor utama dalam merencanakan, mengelola, dan merawat area restorasi. Pendekatan ini memulihkan ekosistem sekaligus memperkuat ketahanan sosial dan ekonomi masyarakat.
WWF menargetkan penanaman dan pemeliharaan 36.000 batang pohon oleh komunitas masyarakat di lahan seluas 300 hektare, area perhutanan sosial. Bibit yang ditanami ialah pohon buah yang bernilai ekonomis, yaitu durian masung king, alpukat mentega, dan kelengkeng yang disediakan langsung oleh WWF. Para petani dalam program ini turut menyediakan 16 jenis bibit pohon, seperti pohon meranti, pulai, gaharu, jengkol, petai, manga, rambutan, kemiri, hingga kopi.
“Restorasi yang dilakukan ini memiliki nilai ekonomi dalam beberapa tahun ke depan. Maka dilakukan penanaman pohon buah. Konsep ini dari petani untuk petani. Rencananya dari petani tetapi tetap didamping WWF,” katanya.
Kegiatan penanaman dan pemeliharan ini akan terdeteksi secara digital dengan aplikasi Restoration for Connectivity yang dikembangkan WWF. Dengan aplikasi ini, para petani dan WWF akan mengetahui pertumbuhan pohon atau mengukur tingkat keberhasilan restorasi tersebut.
“Kita juga mendorong konservasi inkflusif dengan mengajak siapa pun dengan teknologi apa pun,” kata Rara.
Selain penanaman dan pemeliharaan pohon, WWF Indonesia turut memfasilitasi pendirian tempat pembibitan, pelatihan pembuatan kompos, serta membuat pelatihan mitigasi konflik gajah-manusia. Untuk mendukuang Pusat Informasi dan Konservasi Gajah (PIKG), WWF menyediakan pompa air dan tangki penyimpanan air untuk kebutuhan gajah, serta penanaman pohon untuk pakan mamalia besar tersebut.
Sekretaris KTH Bukit Indah Makmur, Sunardi, mengatakan kelompoknya telah menanam kelapa sawit dan karet di lahan seluas 41 hekater.
Dia menyambut baik program yang digagas WWF. Pihaknya akan menanam berbagai tanaman buah-buahan di area peruhatanan sosial. Ke depan, bila tanaman buah terbukti lebih menguntungkan, kelompoknya tidak perlu lagi bergantung dengan kelapa sawit yang sebenarnya memicu konflik dengan gajah dan tidak ramah ingkungan.
“Dari hasil durian dan alpukat, bisa kita jual ke pasar yang bagus. Optimias, yang penting ada pendampingan dari WWF dan pihak terkait. Kami kan petani asalan, dari sawit dan karet. Kita tunggu ke depannya, bagus yang mana,” katanya.
Ketua Ketua KTH Wono Lestari, Fathul Mubin (43), mengatakan sebelum ada program ini pihaknya telah menerapkan agroforestri di lahan seluas 100 hektare, yakni menanam pohon karet, durian, dan alpukat di lahan konsesi PT ABT. Dengan adanya program Restorasi Bersama Masyarakat di Landscape Bukit Tigapuluh, pihaknya akan terbantu untuk mengembangan peratanian hutan yang ramah lingkungan.
“Kami menjalankan yang namanya system agroforestry. Baiknya di sini kami akan mendapatkan bimbingan,” katanya.
Dia mengatakan pihaknya sudah terbiasa menghadapi tanaman rusak akibat dilalui gajah. Sebab, lahan konsesi itu masih bagian dari habitat satwa liar.
“Memang tempatnya gajah, sudah biasa. Kalau pinang diroboh, karet dirusak ada yang dimakan. Kebanyakan karet itu, yang mana getanya paling banyak, itu dikupas, dan dimakan kulitya. Tetapi yang tertentu saja yang dimakan,” katanya.
Mewujudkan Hubungan Harmonis Manusia dan Satwa Liar
Dalam presentasinya, Rara mengatakan program Restorasi Bersama Masyarakat di Landscape Bukit Tigapuluh bertujuan memulihkan ekosistem yang tergradasi akibat illegal logging dan alih fungsi lahan ke perkebunan yang merusak lingkungan. Pemulihan ini tentu juga untuk mencegah bencana ekologis di kawasan tersebut.
“Kita memulihkan lahan kritis. Salah satunya lahan perkebunan yang tidak diberikan pupuk organik, tetapi malah pakai bahan kimia. Kemudian juga lahan yang pengikat tanah dan resapan airnya tidak kokoh lagi, maka akan kita lakukan dengan cara restorasi dan penanaman,” ujarnya.
Tidak hanya itu, restorasi ini juga bertujuan untuk mengurangi interaksi negatif antara satwa liar dan manusia hingga mewujudkan hubungan haromonis atau koeksistensi antar kedua pihak tersebut.
“WWF hadir untuk membuat eksosistem ini pulih, kembali sehat. Dengan apa? Dengan meningkatkan tutupan hutan. Pada akhirnya kita mendorong tercapainya kesejahteraan manusia, juga koeksistensi antara manusia dan satwa di Bukitigapuluh.”
“Kita mau masyarakat sejahtera, tetapi juga konflik dengan satwa atau interaksi negatif coba kita minimalisasi. Caranya dengan meningkatkan atau menguatkan kapasitas masyarakat sekitar, serta berkolaborasi dengan OPD terkait,” kata Rara.
Koordinator Project Executant Landscape Bukit Tigapuluh WWF Indonesia, Nazli Herimsyah, mengatakan program ini menyatukan kesejahteraan manusia dan kelestarian alam dengan pendekatan agroforestri.
“Jika agroforestri berhasil, maka target-target konservasi untuk melindungi fungsi ekolologis dengan pendekatan berbasis masyarakat, kemudian terbangunnya ownership yang mampu meningkatkan pendapatan dari masyarakat. Dua hal ini kami sebut koeksistensi bagaimana masyarakat dan gajah bisa hidup berdampingan,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Kabupaten Tebo, Septiansyah, menyambut baik program yang digarap WWF karena tidak hanya untuk memulihkan ekosistem tetapi juga untuk kesejahteraan masyarakat yang hidup di Bentang Alam Bukit Tigapuluh. Dia berharap adanya sinergisitas atas lembaga pemerintahan dan non-pemerintahan untuk menyukseskan program tersebut.
“Kita tidak bisa bekerja sendirian, sinergisitas antar masyarakat dan pemangku kepentingan sangat dibutuhkan. Kick of meeting ini menandai dimulainya secara resmi seluruh rangkaian program ini. Jika eestorasi ini berjalan secara optimal, memberikan dampak positif bagi lingkungan dan satwa. Dan yang paling penting juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.