Beselang.id adalah media independen nirlaba yang dikelola secara kolektif. Dukung dengan berdonasi agar kami terus bekerja demi kepentingan publik. Donasi di bit.ly/donasibeselang
SETIAP GERAK, setiap tarikan napas adalah ingatan yang diwariskan,” kata Wendy HS saat memandu sesi Total Body Performance Method dalam lokakarya dan penciptaan seni pertunjukan yang digelar di Universitas Jambi.
Wendy HS adalah seorang aktor kawakan asal Sumatera Barat. Dia menjadi narasumber utama dalam kegiatan yang bertajuk “Tubuh sebagai Arsip Tradisi: Tubuh sebagai Medium Ekspresi Budaya”. Lokakarya yang berlangsung selama empat hari, Kamis-Minggu, 16-19 Oktober 2025 itu diinisiasi oleh Akdemikus Universitas Jambi Masvil Tomi dengan menghadirkan dua narasumber utama.
Wendy HS, yang sudah malang-melintang dalam dunia pertunjukan khususnya teater mengatakan, tubuh adalah arsip yang paling jujur dalam merekam jejak kebudayaan.
“Dalam tubuh tersimpan kisah-kisah yang sering kali tak sempat ditulis, tapi selalu bisa dihidupkan kembali lewat performans,” kata Wendy melalui keterangannya yang diterima Beselang.id, Senin (20/10/2025).
Baca selengkapnya: Dari Rimba ke Setra Gembala
Lokakarya yang diikuti para seniman muda dan mahasiswa seni dari berbagai daerah itu berlangsung seru. Setiap peserta seksama saling diskusi dengan narasumber. Melalui sesi eksplorasi gerak, diskusi, dan latihan lintas medium, para peserta diajak menelusuri bagaimana tradisi, ritual, dan alam dapat diolah menjadi bahasa tubuh yang hidup dan kontekstual.
Segendang sepenarian, narasumber utama lainnya Galuh Tulus Utama menekankan pentingnya memahami tubuh sebagai bagian dari ekologi. Seni tubuh menurut Galuh, bukan hanya tentang manusia, tapi juga tentang relasi kita dengan tanah, air, hutan, dan seluruh unsur kehidupan yang menopang eksistensi.
“Teater tubuh yang lahir dari kesadaran ekologis akan membawa penonton kembali pada hubungan spiritual antara manusia dan alam,” kata Galuh.
Dua Karya Tentang Kerusakan Ekologi Dipentaskan
Puncak dari kegiatan lokakarya ini ditandai dengan penampilan karya hasil eksplorasi peserta pada Minggu malam (19/10/2025). Dua karya pertunjukan yang ditampilkan menjadi sorotan utama, yaitu: “Menjala Ingatan Sungai Batanghari”, sebuah karya yang memvisualisasikan hubungan manusia dan sungai sebagai ruang ingatan kolektif, dimana hari ini sungai mengalami berbagai persoalan.

Pertunjukan kedua berjudul “Imbea Rusok” yang menggagas pertunjukan reflektif, menggugat eksploitasi alam dan menyoroti kehilangan keseimbangan ekologis akibat pergeseran nilai budaya dan ekonomi.
Kedua karya tersebut tidak hanya menghadirkan estetika gerak yang kuat, tetapi juga mengandung pesan ekokultural yang mengajak publik untuk mendengar kembali suara alam yang kian terpinggirkan digerus persoalan ekologis.
Kegiatan lokakarya dan pertunjukan seni ini merupakan bagian dari Program Hibah Balai Pelestari Kebudayaan Wilayah V (BPK V) Provinsi Jambi Kategori Perseorangan. Kegiatan ini bertujuan untuk mendukung penciptaan seni berbasis tradisi dan kesadaran budaya lokal dalam era kontemporer.
Baca selengkapnya: Dulu Pemburu di Hutan, Kini Memungut Brondolan
Sementara itu, Akademikus Unja cum Direktur Ruang Mendalo Masvil Tomi, penerima hibah tersebut mengatakan, melalui pendekatan teater tubuh, lokakarya ini diharapkan dapat membuka ruang baru bagi seniman dalam menafsirkan tradisi bukan sebagai artefak masa lalu. melainkan sebagai energi kreatif yang hidup di dalam tubuh.
“Karena tubuh kita ini sebagai laku kebudayaan yang aktif dan real, tubuh kita juga bisa menjadi arsip kebudayaan (tradisi) yang bisa merekam atau terekam pada semua bagian tubuh kita,” kata Masvil.
Menurut Masngo–sapaan akrab Masvil Tomi, lokakarya dan penciptaan seni pertunjukan ini digelar sebagai langkah awal yang akan digarap kedepan. “Tentu kedepan kami akan membuka kolaborasi dengan seniman dari luar Jambi maupun luar negeri,” ujar Masvil.




Leave feedback about this