Beselang.id adalah media independen nirlaba yang dikelola secara kolektif. Dukung dengan berdonasi agar kami terus bekerja demi kepentingan publik. Donasi melalui bit.ly/donasibeselang
DUDUK di antara para aktor yang akan menghidupkan visinya di layar, Taufik Hidayat Rusti tampak bungah. Wajahnya menyimpan campuran lega dan harap—sebab sebentar lagi, film garapannya Mantagi: Air dan Manusia akan tayang perdana di Teater Arena Taman Budaya Jambi pada Selasa siang, 16 Februari 2026.
Di hadapan awak media, sang sutradara Taufik Hidayat Rusti tak sekadar berbicara tentang potongan cerita dalam filmnya. Satu per satu aktor diperkenalkannya.Sesekali ia menyelipkan cuplikan kisah dari film terbarunya itu—tentang air, tentang manusia, dan tentang kesadaran yang hendak dibangunkan.
“Cerita dalam film ini kami bikin mengikuti daerah aliran sungai Batanghari,” kata Taufik Hidayat di hadapan awak media.
Film ini disokong penuh LPDP Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan dengan penerima hibah komunitas Muaro Jambi Documentari dan berkolaborasi dengan Gena Film. Film tersebut hadir sebagai fiksi panjang berbentuk antologi. Ada lima babak cerita yang disajikan. Setiap babak berdiri sebagai cerita tersendiri, namun tetap terhubung oleh satu benang merah.
Lokasi syuting dilakukan di empat kabupaten; Kerinci, Merangin, Muaro Jambi, dan Tanjab Timur. Dalam lima babak cerita itu menjadi simpul perjalanan: mulai dari Gunung Tujuh di Kerinci, turun ke Desa Lubuk Nagodang, dan Desa Air Batu di Merangin. Kemudian melintas ke Muaro Jambidi KCBN Muarajambi, dan berakhir di Teluk Majelis Tanjung Jabung Timur. Seluruh kisahnya mengikuti aliran DAS Batanghari.
Tema besar yang diangkat adalah hubungan air dan mansuia. Taufik mengatakan, air bukan sekadar unsur alam, melainkan entitas spiritual. Garis besarnya adalah “Mantagi” yang dikatakan Taufik bahwa Mantagi merupakan istilah lama yang merujuk pada kesadaran baik dan budi pekerti.
Film ini sarat pesan spiritual. Menurut Taufik, dalam tradisi agama samawi yang memandang air sebagai sumber kehidupan, sarana bersuci, doa, hingga penyembuhan. “Judulnya sangat spiritual dan penuh misteri. Film ini menjadi penyadaran, bukan hanya bagi penonton, tetapi juga bagi saya sendiri,” ujar Taufik.
Di sinilah “Mantagi” menemukan maknanya. Mantagi lanjut Taufik bukan sekadar istilah, tetapi kesadaran yang hidup dalam diri manusia Nusantara. Mantagi seperti nurani yang menuntun manusia untuk selaras dengan bumi. Namun, sekarang Mantagi perlahan hilang dari tubuh kita.

“Dalam film ini kami tidak ingin menghardik atau menghakimi siapa yang salah dalam kerusakan air dan lingkungan. Di film ini kami justru menawarkan gagasan—sebuah ajakan merenung tanpa menggurui,”kata Taufik.
Secara teknis, produksi film ini berkolaborasi lintas daerah. Sekitar 70 persen tim berasal dari Jambi. Proses diawali dengan forum diskusi (FGD) yang mengundang tokoh lintas disiplin ilmu. Syuting berlangsung selama satu bulan, dengan kru gabungan yang bekerja secara gotong royong.
“Lokasi-lokasi yang dipilih memiliki karakter berbeda-beda, menuntut kepekaan dan adaptasi. Kami juga selalu melibatkan pemain lokal dari desa tempat kami syuting,” kata Taufik.
Sementara itu, Husni Thamrin yang memerankan sosok Mister X menjadi figur misterius. Pemeranan karakter ini kata Husni tidak mudah. Dia memerankan Mister X tanpa dialog sepatah kata pun. Bagi Husni, memerankan Mister X adalah perjalanan batin: membaca misteri manusia melalui keheningan dan simbol.
Ide Bagus Putra yang memerankan tokoh Jamar melihat film ini sebagai bentuk folklor kontemporer, dengan air sebagai point of view. Air menjadi subjek yang “berbicara”—mengalirkan cerita, menyaksikan konflik.
Di sisi lain Wo Azhar yang memerankan tokoh Nyatan mengatakan bahwa manusia tersusun dari unsur air, api, tanah, dan angin. “Kita tidak pernah lepas dari unsur-unsur itu. Namun sering kali kita lupa, sehingga keseimbangan rusak dan bencana pun terjadi. Air yang jernih adalah cermin jiwa. Ketika air keruh, sesungguhnya ada yang keruh dalam diri kita,” kata Wo Azhar.
Usai film diputar, kemudian dilanjutkan dengan diskusi yang menghadirkan dua pemantik diskusi, yakni Jafar Rasuh dari kalangan budayawan dan Masvil Tomi dari akademisi.



Leave feedback about this